Budaya Membaca Bermakna (Bag. 1)
Reading is a window to knowledge and wisdom
Oleh: H. A. U. Chaidir
A. Membaca Ayat-Ayat Qauliyah
Sesuai dengan tema kita tahun ini, yaitu “tahun menanam”, maka untuk mengawali langkah kita di tahun 2026 ini, marilah kita mulai dari satu langkah kecil — dengan menumbuhkan budaya membaca yang bermakna — beranjak dari tilāwah, tafsir, menuju tadabbur, — dari sekadar suara menuju makna dan amal.
Untuk mewujudkan budaya membaca yang bermakna — beranjak dari tilawah menuju tadabbur — dari sekedar suara menuju makna dan amal tersebut, kita perlu terlebih dahulu menyadari dan menempuh beberapa langkah:
I. Menyadari bahwa membaca adalah dialog, bukan monolog
Kita sering membaca Al-Qur’an seolah sedang membaca teks, padahal sejatinya kita sedang diajak berbicara oleh Allah. Maka titik awalnya adalah niat dan kesadaran hati:
“Aku membaca bukan hanya untuk melafalkan, tapi untuk mendengar apa yang Allah katakan padaku hari ini.” Setiap ayat punya pesan pribadi — kalau hati terbuka, ia akan menemukan diri di dalamnya.
II. Mengganti cara pandang.
Merubah cara pandang: dari kewajiban menjadi pertemuan, bila membaca hanya dianggap “kewajiban”, maka akan berhenti di “formalitas”.
Tapi bila dianggap sebagai pertemuan ruhani, maka membaca menjadi kebutuhan jiwa.
> Rasulullah ﷺ tidak hanya membaca wahyu,
beliau menjadi wahyu — karena setiap bacaan, beliau ubah menjadi kehidupan.
Maka membaca bukan lagi aktivitas bibir, tapi perjalanan hati menuju kebenaran.
III. Memahami makna: Dari bunyi ke isi
Untuk bisa “masuk ke rumah makna”, kita perlu tiga kunci kecil:
1. Bahasa:
Memahami minimal makna dasar ayat (dengan terjemah, tafsir, atau kajian).
2. Renungan:
Berhenti sejenak setelah membaca, bertanya: apa pesan ayat ini untukku?
3. Keterhubungan:
Melihat kaitan ayat dengan kehidupan nyata — dengan diri, masyarakat, dan semesta.
Membaca tanpa berhenti untuk merenung itu seperti berjalan tanpa menatap peta: kita bergerak, tapi mungkin tersesat.
IV. Menghidupkan “tadabbur” sebagai kebiasaan
Tadabbur berasal dari kata dabbara, yang berarti “melihat akibat atau makna di balik sesuatu.”
Jadi tadabbur bukan sekadar tafsir akademik, tapi perenungan eksistensial — bagaimana ayat itu hidup dalam diri kita.
Langkah sederhana:
1. Bacalah ayat dengan tenang.
2. Temukan kata kunci yang menarik perhatianmu.
3. Renungkan maknanya — apa yang Allah ingin tunjukkan padamu?
4. Niatkan satu amal kecil untuk diwujudkan dari ayat itu.
Contoh:
“Inna Allāha yuḥibbul muḥsinīn” — Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
→ Maka hari ini aku akan mencoba berbuat ihsan, meski kecil. Inilah membaca yang menghidupkan.
V. Menularkan budaya membaca bermakna:
Budaya tidak tumbuh dari teori, tapi dari keteladanan. Ketika satu orang membaca dengan hati, orang lain akan melihat cahaya dalam dirinya. Cahaya itu menular. Seperti kata Ibn Mas‘ūd:
“Jika engkau ingin tahu sejauh mana Al-Qur’an hidup dalam hatimu,
lihatlah sejauh mana akhlakmu berubah karenanya.”
Jadi, sobat, membaca dengan makna adalah perjalanan:
dari huruf menuju hikmah,
dari suara menuju sadar,
dari tilāwah menuju tadabbur, lalu berbuah tazakkur dan amal.
Salam.
Pekanbaru, 20 Januari 2026


















