Refleksi Jum’at Pagi: Pelajaran dari Empat Panci, dalam Dialog Imajinasi
Oleh : A. U. Chaidir
Suatu peristiwa yang terjadi di suatu negeri misterius, karena tidak tercantum di dalam peta bumi, dan tidak ada pula peninggalan sejarahnya untuk diteliti. Yang pasti di negeri itu pernah tinggal seorang bijak bestari, hidup sendiri tanpa ada yang mendampingi, di padepokannya di pinggir kali, di lingkungan perkampungan nan asri, yang belum tercemar oleh polusi. Tuan Guru (TG), itulah panggilan beliau sehari-hari.
Banyak orang berkunjung ke padepokan beliau. Ada yang meminta nasihat atau fatwa, bahkan ada pula yang sengaja datang untuk belajar atau nyantri kepadanya. Suatu ketika Tuan Guru kedatangan tamu, empat orang “pemuda” (PM) dari jauh.
PM : “Tuan Guru, kami berempat ini datang dari negeri tetangga. Sengaja datang menghadap Tuan Guru, memohon nasihatmu”.
TG : “Baik anak muda, nasihat tentang apa gerangan yang kalian minta kepadaku?”
PM : “Begini Tuan Guru, kami berempat ini masih pemuda remaja, perjalanan hidup kami kedepan masih sangat panjang. Berilah kami nasihat, agar hidup kami nanti menjadi berarti, bermakna dan bermanfaat.
Kami takut Tuan Guru, kehidupan kami nanti akan tersesat, sia-sia, penuh penyesalan dan kepedihan.”
TG : “Baiklah, anak muda. Besok kalian datang lagi, bawa 4 buah panci kecil berikut 1 buah batu sebesar telur, 1 butir telur ayam, sepotong ubi kayu dan 3 sendok makan gula pasir.”
PM : (bingung, dan saling memandang) “Ba … ba … baik Tuan Guru, insyaallah besok kami akan datang, sekalian dengan kelengkapan yang Tuan Guru minta.”
Keesokan hari.
PM : “Assalamualaikum Tuan Guru, kami telah datang dengan membawa semua kelengkapan yang Tuan Guru minta kemarin.”
TG : “Duduklah, kalian dengarkan perintahku baik-baik. Pertama, kalian rebuslah batu, telur, ubi, dan gula tersebut secara terpisah. Kedua, kalau sudah matang dan dingin, kalian bawa semuanya kembali kepadaku.
PM : (masih dalam keadaan bingung terhadap perintah Tuan Guru ini) “Baik Tuan Guru, sekarang juga kami laksanakan.” Berselang lebih kurang satu jam kemudian, keempat pemuda tadi kembali menghadap Tuan Guru, sembari menjejalkan empat panci berisi rebusan benda-benda tersebut.
PM : “Tuan Guru, perintah Tuan Guru telah kami laksanakan, ini semua sudah ada dihadapan Tuan Guru.”
TG : “Baik anak muda, merapatlah kalian semua kemari. Mari secara bersama-sama kita coba mengamati satu persatu. Yang perlu kalian terangkan padaku ialah, pertama bagaimana warna airnya, kedua bagaimana rasanya, dan yang ketiga bagaimana pula keadaan masing-masing benda tersebut, setelah kalian rebus sekian lama. Sekarang kita mulai dari “batu”, amatilah, lalu terangkan keadaannya kepadaku.”
PM : “Setelah kami amati dan cicipi, ternyata warna airnya tidak berubah, dan rasanya juga tidak berubah, terus batunyapun juga tidak berubah, tetap keras sebagaimana semula. Demikian, Tuan Guru.”
TG : “Begitulah karakter/tipikal dari sebuah batu, tidak memberi pengaruh kepada lingkungan dan tidak pula terpengaruh oleh keadaan lingkungan, ia tetap keras, membatu. Sehingga orang yang punya karakter/tipikal seperti itu, dijuluki orang dengan “si kepala batu”. Selanjutnya kalian teruskan kepada tentang telur.”
PM : “Warna dan rasa airnya juga tidak berubah, Tuan Guru. Cangkangnya masih tetap keras, namun isinya telah berubah menjadi beku tapi empuk.”
TG : “Itulah karakter dari sebutir telur, tidak dapat mengubah keadaan/lingkungan, malah sebaliknya, keadaanlah yang mengubah dirinya. Meskipun casing-nya masih tampak utuh, terasa keras, akan tetapi isinya sudah diubah oleh keadaan/lingkungannya menjadi empuk dan lembut. Sekarang teruskan pula tentang ubi“.
PM : “Warna dan rasa airnya tetap tidak berubah, akan tetapi ubinya berubah dari yang semula keras, menjadi empuk dan lembek setelah direbus.”
TG : “Seperti inilah karakter sepotong ubi, tidak mampu merubah keadaan, malah dirinya sendiri yang dihancurkan atau dilumat oleh keadaan lingkungan. Terakhir, “gula”, ayo kalian jelaskan.”
PM : “Baik Tuan Guru. Airnya tetap bening, tidak berubah warna. Akan tetapi rasanya telah berubah menjadi manis dan menyegarkan. Sebaliknya, gulanya malah hilang, tidak terlihat lagi Tuan Guru, telah ikut larut bersama air.”
TG : “Demikianlah karakter/sifat gula. Gula telah mengubah keadaan sekitar dari hambar, tawar menjadi manis, segar tanpa merubah penampilan, yaitu warna airnya.”
* Gula datang telah nenghadirkan cita rasa dan sensasi manis dan segar, tanpa merubah warna.
* Baginya tak perlu tampak hadir, karena hanya menghadirkan rasa manis baginya yang menjadi tujuan akhir.
Jadilah seperti gula. Ia tidak menonjolkan diri, tapi ia mampu mengubah dunia dengan manisnya.
Ia menghilang, tetapi telah meninggalkan pengaruh yang tak terlupakan.
Nabi Muhammad saw bersabda :
خیر الناس انفعھم للناس
Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
(HR. At-Tirmizi).
Demikian nasihat Tuan Guru untuk kita.
Pekanbaru, Jum’at, 23 Agustus 2025.