• About
  • FAQ
  • Landing Page
  • Buy JNews
Newsletter
Rokapress
Advertisement
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • Hukrim
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Opini
  • Wisata
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • Hukrim
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Opini
  • Wisata
No Result
View All Result
Rokapress
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Arah Pendidikan Terasa Bergeser

Kegelisahan atas Realitas Pendidikan vs Cita-cita Ki Hadjar Dewantara

Rokapress by Rokapress
Februari 11, 2026
in Opini
0
Arah Pendidikan

Sketsa menyesuaikan dengan isi tulisan (chatgpt).

190
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Arah Pendidikan Terasa Bergeser

Kegelisahan atas Realitas Pendidikan vs Cita-cita Ki Hadjar Dewantara

Related articles

Puasa berulang

Puasa Berulang, Makna Hilang

Februari 6, 2026
kauniyah

Budaya Membaca Bermakna (Bag. Kedua)

Januari 27, 2026

Oleh: A. U. Chaidir

Ada kegelisahan yang belakangan ini sulit penulis abaikan. Ia tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari pengamatan sehari-hari tentang bagaimana pendidikan dipahami dan dijalankan di tengah masyarakat kita dewasa ini. Pendidikan, yang sejatinya merupakan proses memanusiakan manusia, perlahan direduksi menjadi alat mobilitas sosial. Di tingkat keluarga, khususnya orang tua, pendidikan sering dimaknai melalui jalur yang dianggap paling aman: memilihkan sekolah yang baik agar anak kelak memperoleh pekerjaan yang baik. Niat ini tentu tidak keliru. Namun persoalan muncul ketika anak tidak lagi diperlakukan sebagai subjek yang memiliki potensi dan kecenderungan unik, melainkan sebagai objek yang harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Program studi dipilih berdasarkan tren dan peluang ekonomi, bukan minat dan bakat. Target pendidikan menyempit pada ijazah dan transkrip nilai, sementara pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual justru terpinggirkan. Padahal, sejak awal kemerdekaan pemikiran pendidikan bangsa ini telah diletakkan di atas landasan yang jauh lebih manusiawi.

Ki Hadjar Dewantara merumuskan tujuan pendidikan sebagai upaya “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Kata menuntun menjadi kunci. Pendidikan, menurut Ki Hadjar, bukanlah proses membentuk apalagi memaksa, melainkan mendampingi pertumbuhan potensi anak sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Dalam pandangan ini, pendidik dan orang tua bukan pencetak manusia, tetapi penuntun arah.

Sayangnya, makna luhur ini kian menjauh dari praktik. Di tingkat masyarakat, pendidikan tinggi dan gelar akademik menjelma simbol status sosial. Ilmu tidak lagi dimuliakan karena kedalaman pemahaman dan kebijaksanaannya, melainkan karena prestise yang melekat padanya. Menuntut ilmu pun kerap berorientasi pada akumulasi materi, bukan pada pengabdian dan pencarian makna hidup.
Akibatnya, pendidikan melahirkan paradoks: semakin banyak orang berpendidikan tinggi, namun semakin terasa krisis keteladanan, empati, dan tanggung jawab sosial.

Gelar akademik sering dijadikan syarat administratif untuk menduduki posisi tertentu, seolah-olah ia otomatis menjamin kapasitas dan integritas. Padahal, Ki Hadjar justru menempatkan manusia merdeka—manusia yang berpikir mandiri, berkarakter, dan bertanggung jawab—sebagai tujuan akhir pendidikan.
Yang lebih mengkhawatirkan, dunia pendidikan sendiri tidak sepenuhnya berdiri sebagai penyeimbang arus ini. Dalam situasi tertentu, pendidikan diposisikan sebagai komoditas, kampus sebagai industri, dan peserta didik sebagai konsumen. Logika pasar perlahan menggantikan nilai-nilai pedagogis.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, pertanyaan mendasar patut kita ajukan: manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui pendidikan? Apakah negeri ini sedang menyiapkan generasi yang utuh—cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat secara moral—atau sekadar tenaga kerja terampil yang rapuh secara batin?

Tulisan ini bukan tudingan, apalagi penghakiman. Ia hanyalah kegelisahan seorang warga yang percaya bahwa pendidikan seharusnya mengantarkan manusia pada keselamatan dan kebahagiaan, bukan sekadar pada pekerjaan dan status sosial.
Mungkin sudah waktunya kita kembali menengok cita-cita pendidikan yang pernah dirumuskan dengan jernih oleh para pendiri negeri ini, dan bertanya dengan jujur:
sejauh mana pendidikan kita hari ini masih setia pada tujuan itu?

Pekanbaru, 11 Februari 2026

Tags: Arah PendidikanKi Hadjar DewantaraRealitas Pendidikan
Share76Tweet48

Related Posts

Puasa berulang

Puasa Berulang, Makna Hilang

by Rokapress
Februari 6, 2026
0

Puasa Berulang, Makna Hilang Catatan Kecil Menyambut Ramadhan oleh: A. U. Chaidir Sebentar lagi kita akan kembali memasuki bulan Ramadhan....

kauniyah

Budaya Membaca Bermakna (Bag. Kedua)

by Rokapress
Januari 27, 2026
0

Budaya Membaca Bermakna (Bag. Kedua) Oleh: A. U. Chaidir Membaca Ayat-Ayat Kauniyah Budaya membaca tidak semata-mata bermula dari aktivitas membaca...

ilustrasi

Budaya Membaca Bermakna (Bag. 1)

by Rokapress
Januari 20, 2026
0

Budaya Membaca Bermakna (Bag. 1) Reading is a window to knowledge and wisdom  Oleh: H. A. U. Chaidir  A. Membaca...

Membaca tanpa makna.

Membaca Tanpa Makna: Membuka Pintu tapi Tak Masuk

by Rokapress
Januari 14, 2026
0

Membaca Tanpa Makna: Membuka Pintu tapi Tak Masuk Oleh: A. U. Chaidir Membaca adalah aktivitas yang tampak sederhana. Mata menelusuri...

ilustrasi menata ulang langkah (chatgpt).

Menata Ulang Langkah, untuk Menapaki Tahun 2026

by Rokapress
Januari 6, 2026
0

Reset Diri: Menata Ulang Langkah, untuk Menapaki Tahun 2026 oleh : A. U. Chaidir Pergantian tahun sering kita sambut dengan...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Lingkungan sekolah yang bersih

Pentingnya Menjaga Kebersihan dan Kenyamanan di Lingkungan Sekolah

November 25, 2023
Rona Rizki Daulay

Teks Argumentasi tentang Pendidikan

November 25, 2023
Kedatangan Bangsa

Peristiwa Kedatangan Bangsa Barat

November 26, 2023
Tumbuhan Kunyit

Khasiat Daun Kunyit Dapat Meredakan Kembung pada Bayi

Agustus 30, 2022
Pinang Merah, Tanaman Hias Indah di Kampus Rokania

Pinang Merah, Tanaman Hias Indah di Kampus Rokania

3
Pola Hidup Sehat, dengan Olahraga SKJ dan Bola Voli.

Pola Hidup Sehat, dengan Olahraga SKJ dan Bola Voli.

2
Riau Open Championship 2021 Sukses Dilaksanakan

Riau Open Championship 2021 Sukses Dilaksanakan

2
HIMA PTI Akan Adakan Kompetisi Sains Informatika (KSI) dan Olimpiade Informatika

HIMA PTI Akan Adakan Kompetisi Sains Informatika (KSI) dan Olimpiade Informatika

2
panitia

MTQ Rokania 2026 Resmi Ditutup, Rektor Universitas Rokania Apresiasi Panitia dan Peserta

Februari 11, 2026
Arah Pendidikan

Ketika Arah Pendidikan Terasa Bergeser

Februari 11, 2026
Pawai

BEM Universitas Rokania Sukses Selenggarakan MTQ Rokania Tingkat Kabupaten Rokan Hulu

Februari 10, 2026
Puasa berulang

Puasa Berulang, Makna Hilang

Februari 6, 2026

Rokapress

Situs berita kebanggaan anak bangsa

Categories tes

  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Literasi
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • SainsTek
  • Uncategorized
  • Wisata

Tags

Abdul Putra Ginda Hasibuan Adyanata Lubis Alfa Syahputra ALK Asistensi Mengajar Aula PUTERA Desmelati Dr. Desmelati M.Sc. Hasrijal Hasrijal Farmaduansa Hasrijal SSi MM Hermawan Hima PGSD Jufri mancing asyik MOU Musala Ar-Rahman Nuratika Pariang Pariang Sonang Siregar PBSI Pencak Silat Pertukaran Mahasiswa Merdeka PGSD PJKR PLP PLP-I PTI Qurban Rita Arianti Rokan Hulu rokania Rokania FC SKJ STKIP Rokania Suhermon Suparman Syahrizal Fadhli Tito Yudistiro Tofikin twibbon rokania UKMI Al-Madani Universitas Rokania Yayasan Rokan Riau Raya YR3

Newsletter

[mc4wp_form]

  • About
  • FAQ
  • Support Forum
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Contact Us

© 2017 JNews - Crafted with love by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Contact Us
  • Homepages

© 2018 Rokapress by Raja Coding.