Reset Diri: Menata Ulang Langkah, untuk Menapaki Tahun 2026
oleh : A. U. Chaidir
Pergantian tahun sering kita sambut dengan gegap gempita, resolusi, dan target. Namun sesungguhnya, sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu melakukan satu hal yang kerap terlewat: berhenti sejenak.
Berhenti bukan berarti menyerah.
Jeda bukan tanda kalah.
Ia adalah ruang sunyi agar jiwa sempat bernapas.
Ambil napas dalam-dalam. Putar balik sejenak ke dalam diri. Renungkan dengan jujur apa yang sedang kita alami: resah, gelisah, sumpek, terbebani, kegagalan, penyesalann, merasa kosong, kehilangan arah, atau justru terjebak dalam ambisi tanpa makna.
Tulislah—atau setidaknya akui dalam hati—apa adanya. Bukan untuk menghakimi diri, melainkan untuk berdamai dengan kenyataan. Kejujuran pada diri sendiri adalah pintu awal pemulihan.
Evaluasi: Menyadari, Bukan Menyalahkan
Dari kejujuran itu, kita belajar mengevaluasi:
Aktivitas apa yang selama ini menopang hidup kita?
Mana yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan?
Mana yang perlu diperbaiki, dikurangi, atau bahkan ditinggalkan?
Evaluasi bukan proses mencela masa lalu, melainkan menyaring pengalaman agar menjadi bekal yang lebih jernih untuk melangkah ke depan. Allah tidak menuntut kita sempurna. Namun Dia mencintai hamba yang mau belajar dan bertumbuh.
Melepaskan: Beban yang Tak Lagi Relevan
Ada beban-beban yang tanpa sadar terus kita pikul:
dendam dan sakit hati, overthinking yang melelahkan, pencitraan yang menipu, flexing yang hampa, gaya hidup hedon, kebiasaan membandingkan diri, ego yang enggan mengalah.
Beban-beban ini mungkin pernah terasa penting. Namun jika tak dilepaskan, ia hanya akan menguras energi dan mengulang masalah dengan wajah yang berbeda. Berani melepas bukan tanda lemah,
melainkan tanda kedewasaan batin.
Seperti doa yang diajarkan Nabi:
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari yang haram, dan kayakanlah aku dengan anugerah-Mu dari selain-Mu.”
Mengisi: Menata Ulang Ruang Jiwa
Setelah melepas, ruang batin jangan dibiarkan kosong.
Ia perlu diisi—bukan dengan kesibukan semu, tapi dengan hal-hal yang bermakna.
Isi hidup dengan: hubungan yang menenangkan, kebiasaan kecil yang menyehatkan jiwa, waktu hening untuk berdoa dan merenung, sikap menerima keterbatasan dengan lapang dada, amal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas.
Positif bukan berarti selalu tampak berhasil, tetapi selaras dengan nilai dan nurani.
Menentukan Arah: Dari Ambisi ke Kesadaran
Tanyakan pada diri sendiri:
“Aku ingin menjadi lebih… apa?”
Lebih tenang?
Lebih jujur?
Lebih hadir?
Lebih bersyukur?
Lebih bermanfaat?
Arah hidup yang jelas tidak lahir dari ambisi yang bising, melainkan dari kesadaran yang hening. Buatlah skala prioritas. Tidak semua harus dikejar sekaligus.
Action: Kecil, Sadar, Konsisten
Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Mulailah dari hal yang paling mungkin dilakukan hari ini. Lakukan dengan sadar. Jaga konsistensinya. Satu kebiasaan kecil yang dirawat dengan setia lebih bermakna daripada rencana besar yang ditinggalkan di tengah jalan.
Penutup
Tahun 2026 tidak menuntut kita menjadi orang baru. Ia hanya mengajak kita menjadi diri sendiri yang lebih sadar, lebih jujur, dan lebih dekat dengan makna.
Reset diri bukan menghapus masa lalu, melainkan menata ulang langkah agar sejalan dengan cahaya petunjuk-Nya.
Semoga kita diberi kekuatan untuk melangkah, kelapangan untuk menerima, dan keikhlasan untuk menjalani.
Insya Allah.
Pekanbaru, 06 Januari 2026.

















