Pengaruh Program MBG Terhadap Pendapatan Pedagang Kaki lima di Kantin Sekolah
Oleh: Reta Wulan Dari
Dalam waktu-waktu terakhir, program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menarik perhatian masyarakat. Program ini memiliki tujuan yang mulia: meningkatkan pdbn gizi bagi anak-anak, terutama pelajar, agar tumbuh sehat dan dapat belajar secara optimal. Namun, di balik manfaat tersebut, ada dampak tak terduga—penurunan pendapatan pedagang kaki lima, terutama yang beroperasi di kantin sekolah.
Bagi pedagang kecil, kantin sekolah lebih dari sekadar lokasi usaha; itu juga merupakan sumber utama pendapatan. Mereka telah berada dalam ekosistem sekolah selama bertahun-tahun, menawarkan makanan dengan harga yang terjangkau untuk para siswa. Namun, sejak diterapkannya program MBG, perilaku konsumsi siswa mengalami perubahan yang signifikan. Dengan adanya makanan gratis yang ditawarkan, minat untuk membeli jajanan tambahan mengalami penurunan.
Beberapa pedagang melaporkan bahwa pendapatan mereka menurun lebih dari 50 persen. Kondisi ini tentunya berdampak negatif terhadap perekonomian keluarga mereka. Banyak di antara mereka yang mengandalkan seluruh penghasilan harian dari penjualan di kantin. Ketika jumlah pembeli menyusut, mereka harus mencari cara agar tetap dapat bertahan.
Keberadaan fenomena ini menimbulkan sebuah dilema. Di satu sisi, program MBG positif bagi kesehatan dan kesejahteraan siswa. Namun, di sisi lain, program ini berimplikasi menyusutkan pendapatan usaha kecil. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kebijakan publik, tidak peduli sebaik apa pun maksudnya, tetap harus mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi secara menyeluruh.
Beberapa solusi mulai diusulkan. Salah satunya adalah mengajak pedagang kantin berpartisipasi dalam pelaksanaan program MBG, misalnya sebagai penyuplai atau mitra distribusi makanan. Dengan cara ini, mereka tidak sekadar menjadi “korban” kebijakan, tetapi juga dapat merasakan manfaat dari program tersebut. Di samping itu, pedagang juga bisa didorong untuk berinovasi dengan menawarkan menu yang tidak tersedia dalam program MBG.
Di masa mendatang, penting bagi pemerintah dan pihak sekolah untuk menjalin komunikasi dengan pedagang. Kebijakan yang inklusif akan menciptakan keseimbangan antara sasaran kesehatan masyarakat dan kelangsungan perekonomian lokal.
Pada akhirnya, keberhasilan suatu program tidak hanya dinilai dari pencapaian tujuan utamanya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keharmonisan sosial di sekitarnya. MBG merupakan langkah yang baik, namun perlu adanya perbaikan agar tidak melupakan pihak-pihak yang selama ini berkontribusi dalam kehidupan sekolah.


















