Budaya Copy-Paste Dikalangan Pelajar dan Mahasiswa Dapat Mempengaruhi Kualitas Pendidikan
Oleh : Nadiah Nur Zaky
Di zaman modern yang semakin canggih ini, segala sesuatu dapat dilakukan dan diakses dengan mudah atau serba instan. Dari informasi, hiburan, berita, tugas sampai dengan jawabannya. Kita cukup membuka Google, lalu mengetik kata kunci, dan muncul berbagai informasi yang kita cari.
Dengan kemudahan ini kita dapat memiliki peluang besar untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas belajar, baik pelajar maupun mahasiswa. Namun dibalik kemudahan ini, justru membuat penggunanya terlalu berlebihan memanfaatkan teknologi tersebut sebagai jalan pintas, akibatnya pengguna sering menggunakan itu dibanding dengan belajar, membaca, dan berpikir kritis.
Sebagian besar dari penggunanya hanya meng-copy paste atau menyalin informasi serta jawaban saja tanpa harus belajar dan berpikir dengan sendiri. Copy paste membuat proses belajar tidak berjalan sehingga mutu Pendidikan menurun. Fenomena ini semakin sering terjadi dikalangan pelajar maupun mahasiswa dan menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.
Mengapa Copy-Paste Bisa Menjadi Budaya ?
Berikut beberapa alasan seorang pelajar ataupun mahasiswa melakukan kebiasaan copy paste itu.
- Terlalu banyak tuntutan tugas.
Pelajar atau mahasiswa sering merasa tidak sanggup mengerjakan tugas yang banyak sehingga memilih jalan pintas atau cara cepat agar tugas selesai.
- Kurangnya motivasi belajar.
Seperti perilaku malas mengerjakan tugas, mudah menyerah, dan sering menunda-nunda. Dari itu banyak pelajar yang mengerjakan tugas karena takut dengan nilai rendah.
- Sistem penilaian yang terlalu fokus pada hasil akhir.
Selama tugas terlihat rapi dan panjang, nilai tetap bagus meskipun isinya hasil salinan. Hal ini membuat pelajar semakin merasa bahwa copy-paste tidak masalah. Penilaian seharusnya bukan hanya memberi nilai, tetapi memastikan peserta didik benar-benar memahami materi dan siap menerapkan apa yang dipelajari.
Solusi Untuk Mengatasi Budaya Copy Paste
- Pihak guru atau dosen harus memberikan tugas yang menekankan proses. Seperti tugas proyek nyata berdasarkan kehidupan sehari-hari, observasi, dan presentasi. Guru atau dosen menilai secara berkelanjutan selama proses belajar berlangsung.
- Pelajar dan mahasiswa juga harus membiasakan diri dengan memperbanyak membaca dari berbagai referensi (buku, majalah, artikel, jurnal, dll) karena dengan banyak membaca seseorang dapat membuka dan menambah wawasan ilmu pengetahuan, membangun kepercayaan diri, meningkatkan pemahaman materi, dan dapat merangsang otak untuk berpikir kritis. Sehingga kita tidak lagi ketergantungan pada informasi ataupun jawaban instan untuk dicopy paste.
Kesimpulan
Copy paste merupakan fitur yang digunakan untuk menduplikasi atau menyalin berupa teks, gambar, informasi, jawaban, dan lain-lain. Bertujuan mempercepat pekerjaan dan menghindari pengetikan ulang. Kebiasaan ini bisa menjadi penyakit akademik karena dapat merusak pola pikir, merusak kemampuan membaca dan menulis, menurunkan daya pikir kritis, membuat seseorang kurang percaya diri dengan hasil pemikirannya sendiri dan melemahkan kejujuran dalam pendidikan.
Jika budaya malas berpikir ini terus dibiarkan, maka kualitas pendidikan akan menurun, dan generasi yang akan datang hanya akan menjadi generasi yang pandai menyalin, bukan generasi yang pandai menciptakan berinovatif dan kreatif. Karena itu, copy-paste harus segera dihentikan dan diganti dengan budaya literasi yang lebih sehat dengan melatih kemampuan membaca, memahami, lalu menulis dengan pemikiran sendiri.

















