Lonjakan Harga Plastik 2026 Membuat Para Pedagang Menjerit
Oleh: Apmes Delpisa
Di sebuah desa kelurahan kota lama, Ibu Evi tampak sibuk menata dagangannya. Namun,tidak seperti biasanya,wajah pemilik warung jajan dan minuman dingin ini tampak muram. Bukan karena sepi pembeli, melainkan karena “hantu” baru yang meneror usahanya sejak awal tahun 2026.
Plastik kemasan, mulai dari kantong kresek kecil hingga plastik cup untuk minuman kekinian, mengalami kenaikan harga hingga 100%. Jika pada akhir 2025 harga satu pak plastik es masih berada di kisaran Rp 8.000, kini Ibu Evi harus merogoh kocek hingga Rp16.000 untuk barang yang sama. “Dulu plastik itu bonus,saya kasih saja kalau ada yang beli jajanan atau minuman.Sekarang? Saya harus hitung betul.Kalau beli jajan cuma seribu tapi minta plastik double,saya tekor di ongkos wadahnya,” keluh Ibu Evi dengan nada pasrah.
Bagi pedagang kecil seperti Ibu Evi, kenaikan ini adalah simalakama. Menjual jajan-jajanan dan minuman dingin memiliki margin keuntungan yang sangat tipis.
- Dilema Harga: Jika harga es teh plastikan dinaikkan menjadi Rp 3.000 dari biasanya Rp 2.000, anak-anak sekolah yang menjadi pelanggan setianya pasti akan protes.
- Biaya Operasional: Biaya untuk sedotan, kantong kresek, dan plastik klip jajan jika dijumlahkan kini hampir menyamai modal bahan baku makanan itu sendiri.
“Kadang saya merasa seperti kerja bakti. Lelahnya dapat, tapi untungnya habis buat beli plastik saja,” ujar Ibu Evi sambil menunjukkan tumpukan stok plastiknya yang semakin menipis.
Secara makro, lonjakan harga plastik di tahun 2026 dipicu oleh ketidakstabilan pasokan minyak bumi global dan kebijakan pajak karbon yang mulai diterapkan secara ketat pada industri petrokimia. Meskipun tujuannya baik untuk lingkungan, bagi pelaku UMKM mikro seperti Ibu Evi, transisi ini terasa sangat mencekik tanpa adanya subsidi atau alternatif kemasan murah dari pemerintah.
Beberapa pelanggan setia Ibu Evi mulai disarankan untuk membawa wadah sendiri atau menggunakan tumbler untuk minuman. Namun, kebiasaan masyarakat untuk praktis masih menjadi kendala besar.
“Harapannya cuma satu, pemerintah tolong perhatikan kami yang di bawah. Kalau harga plastik terus meroket begini, warung kecil seperti saya pelan-pelan bisa mati,” ucap Ibuk Evi
Kisah Ibu Evi ini adalah satu dari jutaan jeritan pedagang kecil di Indonesia yang kini terhimpit oleh beban biaya kemasan.


















