LITERASI:
Senjata Penyelamat dari Banjir Informasi
Sobat,
Kini kita di era Kautsar informasi. Dulu kita yang cari informasi. Sekarang informasi yang mengejar-ngejar kita 24 jam, tanpa filter, tanpa saringan. Arus infornasi saat ini mengguyur kita bagaikan hujan lebat.
Tak dapat dicegah apalagi dihambat. Hujan banyak membawa manfaat, tetapi juga mengandung mudarat. Hujan itu netral, tergantung kepada orang menerima dan menyikapi. Oleh karena hujan membasahi, maka kita perlu payung guna mengantisipasi. Payung memang tidak akan mampu menghentikan hujan, akan tapi payung dapat melindungi badan dari basahnya hujan
Sobat,
Supaya tidak ditenggelamkan oleh arus infornasi, kita butuh 1 skill: Literasi. Yaitu kemampuan membaca + memahami + memakai + mengolah info dengan timbangan wahyu & akal, biar hidup lebih baik.
Biar tidak abstrak, kita pakai analogi gitar:
1. Literasi dasar = Bisa baca not & metik senar. Ini “bisa baca tulis”. Tidak bisa ini, tidak bisa lanjut.
2. Literasi digital = Paham mana tab gitar beneran, mana yang ngaco di YouTube. Yakni, kemampuan menyaring info di HP — agar tak ketipu hoax.
3. Literasi finansial = Paham harga senar, membedakan kebutuhan vs keinginan. Tahu uang itu alat & rezeki dari Allah — bukan tujuan.
4. Literasi agama = Bisa baca Quran, paham makna dasarnya dari tafsir muktabar, terus mengamalkan. Bukan cuma baca Arabnya saja. Ini kompas langit.
5. Literasi emosional = Bisa “baca” diri sendiri. Lagi marah, iri, lapar validasi. Tahu, terus dikelola, adem, tidak ngamuk.
Intinya: Orang literat itu orang yang tidak gampang dibodohi. Dia baca → dia paham → dia nanya “bener nggak ini sesuai wahyu & fakta?” → dia pakai buat mutusin jalan.
Singkatnya:
Buta huruf = nggak bisa baca tulisan
Buta literasi = bisa baca tulisan, tapi gampang diombang-ambing, gampang ketipu
7 Langkah Mengasah Literasi:
1. Niat: Niatnya “ingin mengerti”, bukan “biar dianggap pintar”.
2. Latih Otot Bertanya: Setiap baca, tanya 3x: Apa maksudnya? Apa yang nggak dia bilang? Kalau benar, apa dampaknya ke hidupku?
3. Dengar/Tulis/Ucapkan: Ilmu nggak nempel kalau cuma di mata. Baca → tulis ulang pakai bahasa sendiri → ajarin orang.
4. Kuras Makanan Otak: Komposisi piring harian: 40% Quran+Sirah+Kitab. 30% Buku bagus. 20% Artikel kredibel. 10% Sosmed. Komposisi kebalik = otak lemot.
5. Jeda 7 Detik Sebelum Share: Tanya: Benar? Penting? Bermanfaat? 7 detik itu nyelametin dari dosa nyebar hoax.
6. Cari Guru & Lingkaran Baca: Literasi nggak bisa sendirian. Cari 1-2 teman yang suka diskusi, bukan debat.
7. Menulis untuk Memahami: Tulis aja dulu pakai bahasa sendiri. Bukan biar pintar, tapi biar ngerti. Bisa karena biasa.
Sobat,
Bahasa tongkrongannya, literasi = dibaca dulu + dipahami dulu + disimpulkan dulu + baru diwujudkan dalam bentuk tindakan
Sajalan jo pituah urang tuo-tuo kito:
Mangango dulu ka mangecek
Paliharo lidah jan taloncek
Usah dipakai ilimu koncek
Bilo takana, lansuang malompek
Sangat relevan dengan petuah para tetua kita. Kalau merespon atau menanggapi sesuatu, jangan digunakan “sifat koncek alias kodok”. Kodok itu “responsif”, sedikit kaget atau mau berpindah, langsung melompat tanpa pikir, tanpa memperhatikan kondisi sekitar atau bahaya yang menghadang.
Jadilah responden bijak.
Urang arif, urang bijaksano
Kurang bijak badan binaso
Urang lain bisa ta-aniayo
Sasa kemudian indak baguno
Orang yang arif selalu menghadirkan kebijaksanaan dan kebaikan untuk bersama.
Keputusan yang kurang bijak dapat menimbulkan kekecewaan dan dampak buruk terhadap orang lain.
Satu kalimat penutup: “Literasi membimbing kita kepada kebijaksanaan”
Allahu a’lam bish-shawab.
Pekanbaru, 29 Juni 2026
A. U. Chaidir

















