Refleksi Akhir Tahun 1447 H: Menyambut 1 Muharram 1448 H
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sobat…
Bersempena Tahun Baru 1448 H, mari kita ambil 5 menit. Tidak usah lama-lama. Cukup untuk menunduk, lalu bertanya pada hati:
“Selama ini, aku hamba yang seperti apa di hadapan-Nya?”
Kalau diamati, sikap kita manusia kepada Sang Pencipta, pada akhirnya hanya jatuh ke 4 kelompok besar ini:
1. Hamba yang datang tulus
“Kami hamba, Engkau Rabb”
Inilah ‘ibadur Rahman. Sujudnya bukan karena takut neraka atau ingin surga. Sujudnya karena malu kalau sehari tak menyapa Allah.
Respon Allah: “Aku dekat dengan prasangka hamba-Ku”. Allah lipatgandakan cinta-Nya. Dikasih-Nya “kenikmatan bermunajat” yang tak bisa dibeli. Orang lain shalat 2 rakaat ngantuk, dia shalat 2 rakaat rasanya sedetik.
Allah tak tambah dunianya. Allah tambah “rasa cukup”-nya. Dan itu hadiah paling mahal.
2. Hamba yang mendekat kalau butuh
Ini kita. Termasuk penulis. Rabbi, lancarkan ini… mudahkan itu…
Respon Allah: Allah tetap kasih. Tak pernah ditahan. Karena Allah malu bila hamba menengadah lalu pulang dengan tangan kosong.
Tapi Allah menunggu. Menunggu kita lelah meminta, lalu diam… lalu sadar: “Lho, kok Allah masih dengarkan, padahal aku hanya datang saat butuh?”
Dari situ Allah ajarkan adab: sebelum minta, puji dulu. Sebelum minta, kenal dulu. Karena Allah rindu mendengar suara kita, bukan hanya membacakan wish list atau daftar petmintaan.
3. Hamba yang acuh, tak bersyukur, tak mengingat
Ini yang paling ngeri. Allah kasih jantung berdetak, paru mengembang, mata melihat… tapi lisan tak pernah “Alhamdulillah”.
Respon Allah: Allah tetap kasih. Rezekinya tak dipotong. Karena Dia Ar-Razzaq. Tak ada hamba yang luput dari rezekinya.
Tapi Allah “membiarkan”. Allah beri nikmat sampai dia lupa siapa Pemberinya. Itu istidraj. Bukan azab, tapi nikmat yang menjauhkan.
Namun pintu taubat tak pernah dikunci. Setiap malam Allah turun ke langit dunia: “Siapa yang minta ampun? Aku ampuni.” Menunggu. Terus menunggu.
4. Hamba yang nakal, maksiat, suka-suka dia
Hamba yang bikin malaikat bertanya: “Ya Allah, masih disayang?”
Respon Allah: Allah kejar, tapi tak dihajar. “Wahai hamba-Ku yang melampaui batas, jangan berputus asa dari rahmat-Ku.”
Allah tutup aibnya 70 kali. Allah tahan azabnya. Allah kasih sakit, kasih gagal, kasih sepi… bukan karena benci, tapi karena sayang. Itu cara Allah “menarik kerah baju” agar kita balik.
Dan bila dia balik, berlari sekencang-kencangnya ke Allah, Allah sambut berlari juga. Dosanya segunung, ampunan-Nya seluas langit.
Allah sayang tanpa syarat: “Kau durhaka 70 tahun, asal detik terakhir kau berbisik ‘Ya Allah’, Aku sambut.”
Sobat…
Allah tak marah pada dosa kita. Allah sedih. Sedih melihat kita memilih jauh, padahal rumah-Nya selalu terbuka.
Maka di awal 1448 H ini, mari kita berdoa pelan:
Ya Allah, jadikan kami hamba yang Kau cintai. Hamba yang Kau rindu suaranya. Hamba yang Kau panggil pulang sebelum ajal menjemput.
Selamat Tahun Baru 1448 H. Semoga tahun ini kita selangkah lebih dekat pada-Nya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pekanbaru, 30 Zulhijjah 1447 H
A. U. Chaidir



















