Rokan Hulu, 10 Juli 2026 – Suasana kebersamaan tampak mewarnai aliran Sungai Langkitin pada Jumat (10/7/2026) sore. Masyarakat Desa Langkitin bersama dosen dan mahasiswa Universitas Rokania yang sedang melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat turun langsung menyusuri sungai untuk mencari langkitang, sejenis siput air tawar yang hidup di sungai berarus jernih. Hasil pencarian tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan utama dalam olahan kuliner yang akan ditampilkan pada Festival Seni Desa Langkitin.
Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB ini tidak sekadar menjadi aktivitas mencari bahan pangan tradisional, tetapi juga merupakan upaya melestarikan kekayaan alam, budaya, serta sejarah yang menjadi identitas Desa Langkitin. Melalui keterlibatan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat, kegiatan ini menjadi wadah edukasi tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan.
Menurut salah seorang warga Desa Langkitin, Hj. Datningsih, tradisi mencari langkitang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak masa lampau. Dahulu, langkitang tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pangan, tetapi juga menjadi simbol kedekatan masyarakat dengan sungai yang menjadi pusat aktivitas sehari-hari.
Dalam proses pencarian, masyarakat menggunakan durung, yakni tangguk tradisional yang terbuat dari anyaman rotan untuk menangkap langkitang di dasar sungai. Hasil tangkapan kemudian disimpan di dalam tas anyaman daun pandan yang dibawa di samping tubuh. Peralatan sederhana tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat yang memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem sungai.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Langkitin, Sekretaris Desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta peserta program pengabdian Universitas Rokania. Bersama-sama mereka menyusuri tepian hingga dasar Sungai Langkitin untuk menemukan langkitang yang bersembunyi di sela-sela lumpur dan bebatuan.
Menariknya, keberadaan langkitang memiliki nilai historis bagi masyarakat setempat. Hewan bercangkang berwarna hitam kekuningan yang bentuknya menyerupai siput itu dipercaya menjadi inspirasi lahirnya nama Desa Langkitin. Selain itu, melimpahnya populasi langkitang juga menjadi indikator bahwa kualitas air Sungai Langkitin masih terjaga, bersih, dan belum mengalami pencemaran.
Melalui kegiatan ini, Universitas Rokania bersama Pemerintah Desa Langkitin berupaya mengintegrasikan pengabdian kepada masyarakat dengan pelestarian budaya lokal. Kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya menjaga kelestarian sungai sekaligus mempertahankan tradisi yang menjadi warisan budaya desa.
Festival Seni Desa Langkitin pun diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni dan kuliner tradisional, tetapi juga menjadi media edukasi untuk memperkenalkan potensi budaya, sejarah, dan kekayaan hayati Desa Langkitin kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, nilai-nilai lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur dapat terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
(sumber: lenggokmedia.com)



















