HIDUP PROGRESIF: Naik Tangga Mencari Makna, Bukan Muter-Muter di Stadion
Sobat…
Artikel lalu kita kenalan sama 6 sahabat: Jasad, Nafs, Akal, Qalb, Ruh, dan Nurani.
Nah, sekarang pertanyaannya: 6 sahabat ini mau dibawa kemana?
Jawabannya satu kata: PROGRESIF.
Karena hidup ini bukan lingkaran. Hidup ini tangga.
Sobat,
- KITA LAGI DI TENGAH JALAN
Progresif artinya berkembang, bergerak maju. Bukan diem di tempat.
Kita sudah sepakat: Hidup kita berangkat dari “nol” menuju “nol”. Dari Allah, kembali ke Allah. Kampung sejati.
Tugas kita sebagai sopir: Selamat sampai tujuan.
Nah… sekarang kita ada di fase 2: Alam Dunia.
Ini bukan tempat tinggal. Ini jalan tol.
Dan tol ini cuma 1 arah: Menuju fase 3.
Gak bisa muter balik. Gak ada exit toll.
Jadi tiap detik, kita sebenarnya lagi “progress”.
Masalahnya: Progress-nya naik atau turun?
- TANGGA, BUKAN STADION
Sejatinya hidup itu naik tangga. Tiap hari harus lebih tinggi, lebih dekat, lebih bermakna.
Bukan kayak orang di stadion. Muter 10x capek, sorak-sorai, tapi posisinya ya disitu-situ juga.
Bukan kayak orang di treadmill. Ngos-ngosan, keringetan, tapi gak maju sejengkalpun.
Pertanyaan trotoarnya:
3 tahun lalu sama sekarang… taqwa kita naik apa turun?
Ilmu kita nambah apa numpuk debu?
Akhlak kita ke orang makin lembut apa makin kasar?
Hati kita makin dekat sama Allah apa makin jauh?
Kalau jawabannya “sama aja”…
Berarti kita lagi di treadmill.
Capek iya. Sampai? Enggak.
- TUJUH PEGANGAN BUAT NAIK TANGGA
Buat naik tangga, tangan kita butuh pegangan. Kalau lepas, jatuh.
Ini 7 pegangannya:
- FITRAH → Kompas.
Pengakuan ada Kekuatan di atas kita. Cenderung ke baik, jijik sama buruk. Tanpa ini kita buta arah.
- ILMU → Peta.
Hasil ngamati alam + ngaji + baca. Biar kita tau anak tangganya di mana. Biar gak nyasar.
- IMAN → Bensin.
Titik sentral. Tanpa ini semua mesin mati. Iman yang bikin capek jadi pahala.
- AKAL → Setir + Rem.
Buat mikir, milih, dan nahan nafsu. Biar gak kebablasan.
- NIAT → Mesin.
Dorongan awal. “Ini aku lakuin karena Allah apa karena biar dibilang alim?”
- LITERASI → GPS.
Kebijakan ngambil keputusan. Tau mana yang prioritas, mana yang buang-buang waktu.
- EVALUASI & UPDATE → Service berkala.
Tiap malam nanya: “Hari ini aku naik tangga apa turun? Ada yang harus aku perbaiki besok?”
Rumus sederhananya jadi 4 langkah:
PERJUANGAN → cari tau TEORI → lalu APLIKASI → dan jaga KONSISTENSI
Tau doang gak cukup. Ngamalin sekali gak cukup. Harus istiqomah.
- HATI-HATI, ADA TEMBOK
Masalahnya sobat… tangga ini ada temboknya.
Tembok itu bukan dari luar. Kita sendiri yang nyemen bata demi bata.
Namanya: Tembok Riya, Tembok Ujub, Tembok “Biar Dibilang Hebat”, Tembok Malas.
Nah tembok inilah yang bikin kita muter di stadion terus.
Udah capek, udah keringetan, tapi ya gitu-gitu aja.
InsyaAllah kita bedah bareng di tulisan berikut:
“MENDOBRAK TEMBOK YANG KITA BANGUN SENDIRI”
Penutup:
Sobat, hidup itu bukan soal berapa lama kita hidup.
Tapi soal berapa “tangga” yang udah kita naiki.
Jangan sampai umur nambah, tapi kita masih di anak tangga yang sama.
Ayo… satu anak tangga lagi hari ini.
Bismillah…..
Pku, 17/7/’26
A. U. Chaidir


















