Jempol Aktif, Mental Terancam? Dampak Media Sosial terhadap Perilaku dan Emosi Anak di Bawah Umur
Oleh: Irma Mutiara
Perkembangan teknologi saat ini semakin membuat anak-anak akrab dengan media sosial. Pendekatan digital dalam penelitian membantu memahami bagaimana anak-anak berinteraksi dan menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas menggeser layar yang dulunya hanya untuk mencari kesenangan perlahan berubah menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa berdampak besar pada kesehatan mental dan perasaan anak.
Media sosial menyediakan berbagai jenis konten, seperti video pembelajaran, hiburan, hingga tren yang sedang viral. Namun, tidak semua materi tersebut cocok untuk anak-anak, terutama yang masih dalam usia anak. Paparan informasi yang terlalu banyak bisa membuat anak kesulitan membedakan mana perilaku yang baik dan mana yang buruk. Akibatnya, anak lebih rentan terpengaruh oleh hal-hal negatif, seperti perilaku impulsif, kecanduan, hingga mengikuti tren yang tidak sesuai dengan usianya, seperti fenomena ‘velocity’ yang banyak ditemui di media sosial saat ini.

Salah satu dampak yang paling terlihat adalah perubahan emosi. Anak yang sering mengakses media sosial berlebihan cenderung lebih mudah emosional, mudah marah, atau mengalami perubahan suasana hati yang tidak stabil. Ini terjadi karena mereka sering membandingkan diri sendiri dengan hal-hal yang dilihat di media sosial, yang biasanya menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Kondisi ini bisa menyebabkan tekanan mental sejak kecil.
Selain itu, kebiasaan menggulirkan layar juga memengaruhi cara anak berinteraksi dengan orang lain. Interaksi langsung dengan keluarga dan teman sebaya semakin berkurang. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengurangi kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak jadi kurang perhatian terhadap lingkungan di sekitarnya.
Namun, media sosial juga membawa dampak baik, seperti membantu anak belajar berkomunikasi, menambah pengetahuan, dan mendukung pembelajaran secara digital. Namun, manfaat positif tersebut hanya bisa dirasakan jika penggunaan media sosial dilakukan dengan bijak dan terkontrol.
Media Sosial bisa memengaruhi perilaku dan perasaan anak-anak. Penggunaan yang terlalu berlebihan dan tidak diawasi orang tua bisa menyebabkan masalah seperti perubahan cara berperilaku dan gangguan emosional. Oleh karena itu, orang tua perlu berperan aktif dalam mengawasi anak-anak saat menggunakan media sosial dengan cara yang bijak. Kemudian orang tua harus membatasi waktu anak menggunakan media sosial. Agar anak tetap bisa bermain dan berbicara dengan teman-temannya secara baik dan sehat.


















