Jebakan Bernama Sukses, Bagian 2: Kenapa Orang Selalu Mengukur Sukses Itu Hanya dengan Materi?
Oleh: A. U. Chaidir
Sobat,
Di Bagian 1 kita sepakat: definisi sukses itu tidak tunggal. Kita sudah bedah 8 sudut pandang biar gambarnya utuh.
Sekarang kita telusuri: kenapa di realita, orang mengukurnya cuma pakai uang, rumah, jabatan, dan status sosial?
Bukan karena manusia jahat atau materialistis. Tapi karena, setidaknya ada 8 sebab pula yang saling mengunci:
1. Materi Mudah Diukur
Kekayaan, gaji, aset = ada angkanya. Kelihatan.
Sementara kebijaksanaan tidak ada meterannya. Ketenangan batin tidak ada timbangannya. Integritas tidak muncul di laporan keuangan.
Manusia suka yang konkret. Makanya yang gampang dihitung, jadi patokan.
2. Warisan Dunia Sosial
Sejak dulu, status = sumber daya. Yang punya tanah, ternak, budak, dia yang dihormati.
Warisan itu nyambung sampai sekarang: ganti jadi jabatan, follower, mobil, merek.
Nabi ﷺ mengingatln: “Dua ekor serigala lapar yang dilepas ke kandang kambing, tidak lebih merusak agama seseorang daripada cinta harta dan kedudukan” HR. Tirmidzi. Jadi ini fitrah ujian, bukan aib pribadi.
3. Pengaruh Media & Budaya Populer
Media jual yang visual: mobil mewah, rumah megah, liburan mahal.
Nilai abstrak kayak tulus, sabar, qanaah susah difoto.
Al-Quran udah warning dari 1400 tahun lalu: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” QS. At-Takatsur 1-2. Visual melalaikan kalau nggak dikunci niat.
4. Tuntutan Kebutuhan Dasar
Ini rasional. Tanpa uang: makan susah, sekolah susah, berobat susah, rasa aman goyang.
Islam juga ngakui. Makanya “hifdzul maal” = menjaga harta masuk 5 tujuan syariah.
Masalahnya muncul ketika “alat” naik pangkat jadi “tujuan”.
5. Kecenderungan Membandingkan
Psikologi menyebutnya social comparison. Tetangga ganti mobil, kita gelisah. Teman naik jabatan, kita ngerasa gagal.
Padahal standar sukses jadi relatif dan tak ada ujungnya. Nabi ﷺ mengajarkan obatnya: “Lihatlah orang yang di bawah kalian dalam urusan dunia, jangan lihat yang di atas kalian…” HR. Muslim. Itu penawar iri.
6. Sistem Konsumerisme
Ekonomi modern butuh kita “beli terus, upgrade terus”. Pesannya halus: “Kalau punya ini, kamu akan bahagia”.
Padahal Allah sudah bilang: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan senda gurau…” QS. Al-Hadid 20. Senang dari barang baru itu cepat basi. Namanya hedonisme.
7. Akarnya: Menyamakan Sarana Dengan Tujuan
Ulama nyebut ini Tafdhilul Wasilah ‘al Ghoyah = mendahulukan alat di atas tujuan.
Uang itu sarana. Alat. Instrumen. Bukan Tuhan.
Allah telah mengingatkan: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri” QS. Luqman 18.
Nabi ﷺ tegas: “Binasalah hamba dinar, binasalah hamba dirham…” HR.
Bukhari.
Kalau harta jadi tuan, manusia jadi budak.
8. Orang Kaya pun Akhirnya Bertanya
Menariknya, banyak yang sudah “nyampe” secara materi, malah mulai nanya: ini saja?
Setelah aman, mereka cari makna, kesehatan, relasi dalam, kontribusi, dan pertumbuhan spiritual.
Karena mereka merasakan firman Allah: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu” QS. Al-Kahfi 46.
Sudut Pandang Seimbang
Yang keliru bukan hartanya. Harta itu penting: buat aman, buat buka peluang, buat nolong orang.
Yang keliru = menyempitkan sukses cuma jadi materi. Padahal manusia punya 5 lapar: jasad, emosi, sosial, akal, ruh. Kalau satu saja dikasih makan, timpang.
Makanya para bijak bilang: “Uang itu pelayan yang baik, tapi tuan yang buruk.”
Selama jadi alat, dia menolong. Pas jadi tujuan, dia mengurung.
Sobat… kalau materi bukan finish-nya, lalu finish manusia itu apa?
Itu yang akan kita bedah di Bag. 3: Sukses Versi Langit.
Pekanbaru, 11 Juni 2026
Chaidir.


















