Jebakan Bernama Sukses
Bagian 3: Sukses Versi Langit
Sobat,
Bagian pertama, kita sudah menyasar 8 pendekatan untuk membongkar makna sukses yang sesungguhnya. Bagian kedua, telah kita bedah pula 8 kunci yang bikin orang terkunci: kenapa ukuran sukses menyempit jadi materi, status, dan jabatan.
Sekarang kita sampai di bagian penutup. Bagian ketiga.
Di sini kita coba menyingkap satu pertanyaan paling jujur: Mengapa orang berhenti di materi? Mengapa tidak lanjut ke makna?
Sobat,
Bayangkan hidup ini seperti sebuah jembatan.
Jembatan itu megah, lapang, panjang. Nyaman. Di kiri kanan ada pemandangan indah. Ada semilir angin sepoi-sepoi yang membius siapa saja yang melintas.
Dalam analogi ini:
1. Tujuan di seberang = makna hidup, cita-cita, nilai, pengabdian, kebahagiaan sejati, atau tujuan akhir yang kita tuju.
2. Jembatan = materi, kekuasaan, jabatan, teknologi, pendidikan, dan semua sarana yang membantu perjalanan.
3. Pemandangan indah = kenikmatan, pujian, prestise, gengsi, dan segala godaan yang bikin kita berhenti menikmati perjalanan, tapi lupa melanjutkan langkah.
Akibatnya apa?
Seseorang bisa habis umurnya di atas jembatan. Dia memang sudah beranjak dari titik awal, tapi belum pernah benar-benar sampai ke tujuan.
Yang lebih ironis: ada orang yang terus memperlebar jembatannya, memperindah, memperkuat. Tiang ditambah, lantainya dipoles emas. Tapi dia lupa bertanya satu hal paling penting: “Saya sebenarnya hendak ke mana?”
Dalam banyak tradisi filsafat dan spiritual, ini kekeliruan paling mendasar manusia: sarana menjadi tujuan.
Padahal nilai jembatan bukan diukur dari seberapa lama kita berdiri di atasnya. Nilainya ada pada satu hal: sanggupkah ia mengantar kita ke tempat yang hendak dituju?
Sobat, pemandangan di kiri kanan jembatan tidak selalu buruk. Keindahan hidup, kenyamanan, keberhasilan, rezeki… semua itu boleh dinikmati. Semua itu patut disyukuri.
Yang jadi masalah hanya 3 hal:
1. Berhenti berjalan
2. Terlena
3. Menganggap pemandangan itu sebagai tujuan akhir
Jadi bedanya di mana?
Orang bijak, menikmati pemandangan dari atas jembatan, tapi tetap melangkah.
Orang yang terlena, menikmati pemandangan sampai lupa untuk apa dia menyeberang.
Karena itu, pertanyaan yang layak kita ajukan ke diri sendiri, bukan: “Sudah sejauh mana saya di atas jembatan?”
Tapi: “Apakah saya masih bergerak menuju tujuan yang benar?”
Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada berapa banyak harta, jabatan, atau pengakuan yang kita kumpulkan selama di perjalanan.
Sebab jembatan paling megah pun, kalau tidak mengantar ke seberang… tetap hanya jembatan.
Penutup: Road Map
1. Yang telah lewat = alam azali, sebelum kita hadir di bumi
2. Sekarang = alam dunia, yang tengah kita jalani saat ini, menuju “ilaihi raji’un”
3. Yang akan datang = alam akhirat, yang ditentukan oleh pilihanjalan hidup di dunia.
* Kita diberi kebebasan memilih jalan hidup.
* Setiap pilihan mempunyai konsekwensi.
* Dalam memilih kita dibekali dengan: fitrah + kitab suci + sunnah Rasul.
* Kehidupan tidak bisa di tarik mundur ke titik awal (restart), akan tetapi bisa ditata ulang (reset).
* Silahkan menyesal sejadi-hadinya hari ini. Itu tepat. Sesal kemudian tiada guna
* Perlu ingat, berapa langkah lagi kita sampai? Tidak perlu hitung sudah berapa jauh perjalanan kita
* Penulis termasuk didalamnya.
Salam.
Pekanbaru, 18 Juni 2026
A. U. Chaidir


















