Algoritma: Rumus Hidup Setelah 6 Tembok Roboh
Sobat!
I. Apa Itu Algoritma?
Secara sederhana, “algoritma adalah langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah”
Sobat bayangkan seperti masakan:
1. Ada bahan baku → input
2. Ada langkah-langkah → proses
3. Ada hasil → output
Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari:
– Cara memasak mie instan
– Cara menghitung luas persegi panjang
– Cara login ke akun media sosial
Jadi algoritma bukan cuma di komputer. Tapi kita pakai tiap hari tanpa sadar.
II. SEJARAH ALGORITMA
Istilah “algoritma” berasal dari nama seorang ilmuwan Muslim yaitu Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi.
Al-Khwarizmi hidup di sekitar abad ke-9. Lahir di Khwarizm, sekarang Uzbekistan. Berkiprah di Baghdad, pusat ilmu dunia waktu itu.
Beliau yang memperkenalkan sistem angka dan cara menghitung yang sistematis. Dunia Barat nyebutnya “Algorithm” dari namanya.
MasyaAllah… ternyata pondasi “berpikir sistematis” itu dari peradaban Islam.
III. CONTOH ALGORITMA SEDERHANA
Memasak sebungkus mie instan. Langkah-langkahnya:
1. Ambil wadah, isi air secukupnya
2. Panaskan sampai mendidih
3. Keluarkan mie dari bungkusnya, rebus selama +/- 5 menit
4. Masukkan bumbu, aduk rata
5. Pindahkan ke mangkuk
6. Kini mie sudah siap saji
Catat Pak: Langkahnya harus runtut. Tidak boleh lompat-lompat, apalagi terbalik. Kalau bumbu dimasukin duluan sebelum air mendidih, rasanya beda. Hasil akhirnya bisa rusak.
Hidup juga begitu.
IV. MENGAPA ALGORITMA DPERLUKAN?
Begini Sobat…
Setelah 6 tembok besar roboh, belenggu telah lepas. Pandangan ke depan sudah terang. Kini waktunya untuk menata ulang fokus kehidupan.
Kita punya kebebasan untuk memilih. Memilih jalan hidup sendiri. Mengasah talenta serta memohon bimbingan-Nya.
Tapi ingat, kawan: “Setiap keputusan ada konsekuensi”
Di dalam teori manajemen ada istilah POAC, yakni Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Rumus ini sangat relevan digunakan untuk menata ulang fokus kehidupan ke depan setelah 6 tembok besar yang kita bangun sendiri itu telah sirna.
Nah, disinilah pentingnya peran algoritma.
Untuk mewujudkan setting ulang fokus kehidupan tadi diperlukan: langkah-langkah yang logis, sistematis dan runtut. Langkah yang tidak boleh zig-zag atau lompat-lompat.
V. TIGA BAHAN BAKAR ALGORITMA KEHIDUPAN: POAC + LITERASI + NIAT
1. POAC → Kerangkanya. Mau ke mana, siapa yang ngerjain, gimana eksekusinya, gimana ngeceknya.
2. LITERASI → Bahannya. Untuk merumuskan POAC kita butuh baca, belajar, bertanya, dan memahami zaman. Tanpa literasi, algoritmanya bisa salah.
3. NIAT & DOA → Mesinnya. Algoritma paling canggih pun akan ngaco kalau tanpa ridho Allah.
VI. CONTOH APLIKASI ALGORITMA di BERBAGAI SEKTOR
1. Di Bisnis:
Mau buka usaha? Algoritmanya:
Riset pasar → Siapkan modal → Bangun tim → Jalankan → Evaluasi → Perbaiki.
Lompat langsung ke “iklankan” tanpa riset = mie gosong.
2. Di Pendidikan:
Mau pintar? Algoritmanya:
Punya tujuan → Cari guru/buku → Belajar rutin → Praktek → Ujian → Murojaah.
Nggak bisa langsung “pintar” tanpa proses.
3. Di Keluarga:
Mau rumah tangga harmonis? Algoritmanya:
Komunikasi → Saling memahami → Menyelesaikan masalah bersama → Maaf-memaafkan → Doa bersama.
Kalau skip “komunikasi”, outputnya bisa retak.
4. Di Ibadah:
Mau khusyuk? Algoritmanya:
Wudhu sempurna → Datang lebih awal → Kosongkan pikiran → Fokus ke ayat → Tadabbur → Minta hidayah.
V. KESIMPULAN.
Sektor apa saja, bidang apa saja yang akan kita geluti, semua butuh dan ada algoritmanya.
Hidup tanpa algoritma = jalan tanpa peta. Capek, muter-muter, ujungnya nyasar.
Lalu setelah merobohkaan 6 tembok besar, yuk kita sama-sama duduk, bikin algoritma hidup kita yang baru. Yang lebih lurus, lebih berkah, dan lebih diridhoi-Nya.
Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya algoritma adalah yang mengantarkan kita ke surga-Nya.
Pekanbaru, 1 Agustus 2026
A. U. Chaidir

















