MELURUSKAN KIBLAT: Langkah Penting Setelah Paham Algoritma
Sobat,
Pada trilogi sebelumnya kita sudah bicara panjang tentang perjalanan hidup:
1. The Period of Human Life: From Zero to Zero
2. Hidup Progresif: Naik Tangga Mencari Makna, Bukan Muter-Muter Stadion
3. Mendobrak 6 Tembok Besar yang Kita Bangun Sendiri
Lalu telah kita lanjut pula ke Algoritma: Rumus Hidup Setelah 6 Tembok Besar Roboh.
Artinya kita sudah paham fase-fase kita.
Kita sudah sadar sedang ada di tangga yang mana.
Kita juga sudah tahu tembok apa yang harus dirobohkan.
Tapi tunggu dulu!
Sebelum melangkah lebih jauh, ada 1 pekerjaan rumah yang tidak boleh dilewatkan:
MELURUSKAN KIBLAT.
APA ITU “KIBLAT” HIDUP?
Kiblat itu arah. Pandangan hidup. Kompas.
Masalahnya, banyak dari kita jalan jauh… tapi kompasnya rusak, kiblatnya salah.
Kita robohkan temboknya, kita pahami algoritmanya, tapi koblat atau pandangan hidup kita masih ke:
– Materialisme → “Bahagia = punya banyak”
– Hedonisme → “Bahagia = nikmatin terus”
– Konsumerisme → “Bahagia = beli terus”
– Dan visi-visi sempit lainnya
Hasilnya?
Muter-muter stadion lagi. Capek. Gelisah. Sumpek.
Ibarat naik motor kencang… tapi arahnya muter di Bundaran HI.
Itulah kenapa “baju orang” terasa sempit.
Itulah kenapa “motor maksa masuk tol”.
Karena kiblatnya belum lurus.
LALU KIBLATNYA KEMANA?
Simpel sobat, tidak ribet: Ke Ridha dan Surga Ilahi.
Bukan berarti kita tidak boleh kaya. Kaya itu harus. Bukan berarti tidak boleh nikmat. Nikmat itu anugerah.
Tapi, jadikan semua itu “kendaraan”, bukan “tujuan”.
Baca Talenta
Surabaya – Jakarta bisa naik motor, mobil, pesawat.
Tapi tujuannya tetap Jakarta.
Hidup sesuai talenta, bisa kaya, bisa sederhana.
Tapi tujuannya tetap: Ridha dan Surga Allah
Kalau kiblat sudah lurus, maka:
* Yang berada di jalur kaya akan menjadi seorang Abdurrahman bin Auf, sahabat konglomerat dermawan, penopang dakwah Rasul dengan hatanya.
* Yang sederhana akan seperti Bilal bin Rabah yang mulia, ajudan Rasul setia dengan hidup sederhana yang suara terompahmya terdengar disurga.
Tidak ada lagi iri. Tidak ada lagi cemas. Karena kita tahu, kita sedang pulang.
PENUTUP
Jadi, sebelum kita gaspol dengan algoritma…
Berhenti dulu sejenak. Ngaca. Luruskan kiblat!
Karena perjalanan sejauh apapun, kalau arahnya salah…
ujungnya hanya akan mengantarkan kita semakin jauh dari rumah.
Wallahu a’lam bishawab.
Pekanbaru, 6 Agustus 2026.
A. U. Chaidir

















