PASIR PENGARAIAN – Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit berpotensi menekan daya beli masyarakat serta memperlambat perputaran ekonomi daerah. Kondisi ini menjadi perhatian akademisi muda, Alfa Syahputra, yang menilai stabilitas harga TBS memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat, khususnya di Kabupaten Rokan Hulu.
Alfa, yang juga merupakan anggota BPC HIPMI Rokan Hulu, menyampaikan bahwa sektor kelapa sawit selama ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat di Rokan Hulu. Oleh karena itu, setiap perubahan harga TBS yang berdampak pada pendapatan petani akan berpengaruh langsung terhadap tingkat konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah secara keseluruhan.
“Petani sawit merupakan salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat. Ketika pendapatan petani menurun akibat turunnya harga TBS, maka daya beli masyarakat juga ikut melemah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga oleh pelaku UMKM, pedagang, hingga sektor jasa yang selama ini tumbuh dari aktivitas ekonomi perkebunan,” ujar Alfa, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, dalam perspektif ekonomi daerah, stabilitas harga komoditas perkebunan merupakan faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, setiap penyesuaian harga perlu dilakukan secara objektif, transparan, dan mengacu pada regulasi yang berlaku.
Alfa menjelaskan, apabila harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar global tidak mengalami penurunan yang signifikan, maka penyesuaian harga TBS di tingkat petani juga seharusnya dilakukan secara proporsional dan berkeadilan. Transparansi dalam mekanisme penetapan harga dinilai penting untuk menjaga kepercayaan petani sekaligus menciptakan kepastian usaha bagi seluruh pelaku industri kelapa sawit.
“Stabilitas harga TBS bukan hanya menyangkut kepentingan petani, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi daerah. Oleh sebab itu, pengawasan terhadap implementasi harga di lapangan perlu diperkuat agar tidak terjadi praktik-praktik yang merugikan masyarakat,” katanya.
Sebagai akademisi dan anggota HIPMI Rokan Hulu, Alfa menilai sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, pabrik kelapa sawit, serta organisasi petani sangat diperlukan guna menjaga keseimbangan antara kepentingan usaha dan kesejahteraan masyarakat.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat membangun komunikasi yang konstruktif serta mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku, sehingga sektor kelapa sawit tetap mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan.
“Yang paling penting adalah menjaga kesejahteraan petani sekaligus menciptakan iklim usaha yang sehat. Dengan demikian, sektor sawit dapat terus memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Alfa.



















