Qana’ah: Warisan Tua yang Ditinggalkan
Oleh: A. U. Chaidir
Kita hidup di zaman yang terus berbisik, “kurang, kurang, masih kurang.”
Iklan bilang kebahagiaan ada di barang baru. Media sosial bilang gengsi ada di gaya hidup orang lain. Lama-lama hati jadi lelah mengejar sesuatu yang geraknya selalu satu langkah di depan kita.
Penulis tidak hendak menyalahkan siapa pun—karena penulis sendiri pernah ada di sana. Mengejar, mengumpulkan, membandingkan. Capek, tapi nggak berhenti.
Tapi mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya: kalau semua ini bukan jalan satu-satunya, adakah cara hidup yang bikin hati lebih tenang?
Bagi penulis, jawabannya ada pada satu kata tua yang sering terlupa: qana’ah.
Bukan ajakan untuk miskin, bukan pula larangan untuk berusaha. Ini ajakan untuk kembali merasa cukup, supaya kita bisa hidup tanpa diperbudak keinginan yang tak pernah selesai.
Perburuan yang Melelahkan
Berburu itu tidak salah.
Berburu konkret adalah usaha serius untuk mendapatkan yang halal demi keberlangsungan hidup dan kebahagiaan keluarga. Itu ibadah.
Tapi ada pula berburu semu.
Berburu mangsa yang tidak pernah menghadirkan kepuasan, ketenangan, dan kedamaian. Inilah perburuan materialis, hedonis, dan konsumeris.
1. Materialisme
Pandangan hidup yang menilai “nilai manusia” dari kepemilikan: benda, uang, status.
Ciri nalarnya: “Saya punya, maka saya berharga.”
Tujuannya: Mengumpulkan dan mengakumulasi.
Resikonya: Hidup kaku, kerja keras tapi batin kosong. Kalau tidak punya, rasanya gagal. Tolok ukur sukses jadi sempit: benda, uang, jabatan.
2. Hedonisme
Paham yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama hidup.
Ciri nalarnya: “Yang penting enak, nyaman, senang sekarang.”
Tujuannya: Memaksimalkan kenikmatan pribadi.
Resikonya: Mudah bosan, kehilangan makna, sulit berkorban untuk jangka panjang. Bahagia jadi musiman.
3. Konsumerisme
Menjadikan konsumsi sebagai gaya hidup dan sumber makna.
Ciri nalarnya: “Saya beli, maka saya ada.”
Tujuannya: Mendapat validasi lewat barang dan pengalaman.
Resikonya: FOMO, identitas meminjam dari merek. Tidak punya barang baru merasa ketinggalan. Dompet tipis, utang menggunung.
Kalau disimpulkan, akibat buruk dari pola hidup di atas adalah bertambahnya beban: sumpek, sesak dada, cemas, capek mental yang tak pernah selesai. Padahal yang kita cari cuma satu: hidup yang nyaman, tenang, dan damai.
Tiga Tabung Pelindung
Penjajahan pikiran ini tidak bisa dihentikan dari luar. Yang bisa kita lakukan hanya memasang pelindung dari dalam. Ada tiga gagasan:
1. Minimalis
Mengurangi barang dan aktivitas yang tidak esensial, agar fokus ke yang penting.
Kelebihannya: Rumah lebih lega, waktu lebih lapang, pikiran lebih jernih.
Batasnya: Kalau niatnya hanya “biar estetik”, hati masih mengejar validasi. Ganti tren, ganti gaya lagi.
2. Enough is Enough
Menetapkan titik “cukup”. Gaji segini cukup. HP tiga tahun cukup. Liburan setahun sekali cukup.
Kelebihannya: Ada batas yang melindungi dari serakah.
Batasnya: Ini keputusan kepala. Kalau hati belum tenang, bisikan “kurang, kurang” tetap terdengar.
3. Qana’ah
Qanaah ialah sikap hidup yang bisa menerima realita, dengan tetap memohon yang patut, serta berusaha dengan cerdas. Qanaah tidak menyuruh miskin, dan tidak pula mengharamkan kaya. Qanaah itu pasrah yang aktf, bukan menyerah total.
Kelebihannya: Menyentuh luar dan dalam. Badan tetap ikhtiar, hati tetap ridho. “Aku berusaha, Allah yang menentukan cukupnya.”
Racikan herbalnya: Tiga bahan pusaka—Ridho, Syukur, Tawakal. Diminum tiap habis subuh.
Minimalis merapikan rumah. Enough is enough mengunci pintu. Qana’ah yang menyalakan lampu di dalam hati.
Pulang ke Rumah yang Sebenarnya
Iklan akan terus berbisik “kurang”. Media sosial akan terus menggulir. Itu memang kerja mereka.
Kerja kita cuma satu: pulang. Pulang dari perburuan tanpa ujung. Pulang ke qana’ah.
Qana’ah bukan garis finish. Dia kompas. Selama kompasnya dipegang, mau kita jalan ke kiri mengejar karier, ke kanan merintis usaha, lurus mengurus keluarga… hati tetap tenang.
Karena orang qana’ah itu kaya. Bukan karena dompetnya tebal. Tapi karena keinginannya pendek.
Dan keinginan yang pendek, doanya jadi panjang:
_“Ya Allah, cukupkan aku dengan rezeki yang Engkau halalkan, dan jauh dari yang Engkau haramkan.
Itulah pusaka tua yang ditinggalkan.
Murah, tapi menyelamatkan.
Pekanbaru, 30 Mei 2026



















